Sahabat Selamanya
Oleh: Akbar
Hari ini
aku sungguh senang. Hari pertama masuk sekolah di sekolah baru. Karena pindah
sekolah mengikuti orang tua. Jantungku berdebar-debar. Sesuatu yang kutakutkan
mudah-mudahan tidak terjadi. Takut jika tidak ada yang mau berteman denganku.
Ada seorang anak, dia gendut dan lucu
menghampiriku.
“Hai, namamu siapa?” dia mendekatiku.
“Namaku Akbar, namamu siapa?” jawabku
dan ganti bertanya.
“Namaku Zidan,” jawabnya.
Hatiku sungguh senang. Dia teman
pertama yang kukenal. Mengantarkanku sampai masuk kelas, karena ternyata kami
satu kelas di kelas empat. Kini sudah tak takut lagi. Aku sudah punya teman.
Zidan
mengajakku ke halaman dan berkenalan dengan teman yang lain. Ada Fakhri, Adli,
Sofia, dan Abdus. Kami saling menanyakan nama, alamat, dan yang pasti
menanyakan asal sekolahku sebelumnya.
Bel
berbunyi, kami masuk kelas. Sepanjang jalan menuju kelas aku sangat senang.
Tapi agak sedih, karena hari pertama ini tempat dudukku paling belakang dan
sendirian. Tak apalah. Tiba-tiba Zidan mendekatiku.
“Bar,
kamu mau duduk di belakang apa tengah?”
“Di
sini saja,” jawabku.
“Aku
duduk di sini ya?” pintanya.
Kuanggukkan
kepala. senangnya ada teman yang menemaniku meskipun baru pertama masuk
sekolah. Tak lama setelah kami duduk bersama, terlihat dari pintu masuk kelas.
Seorang anak terlambat. Sepertinya aku mengenalnya, tapi nggak kenal. Dan
begitu terkejutnya aku. Ternyata dia masih saudaraku. Namanya Fai. Dia anak
yang lucu dan baik hati.
***
Banyak
sekali kejutan di sekolah baru yang membuatku senang. Beberapa hari setelah
hari pertama sekolah ada jadwal perkemahan. Belum pernah aku mengikuti
perkemahan. Ini adalah untuk pertama kalinya perkemahan dengan tidur di sekolah
tanpa ditemani orang tua.
Kami
benar-benar diajari untuk mandiri. Belajar salat, menyimpan barang-barang
sendiri, bersosialisasi, dan berkompetisi. Dalam perkemahan ini sungguh bisa
mendekatkan dengan teman satu sama lain.
Regu
kami sangat bekerja keras dalam mengikuti kompetisi. Kami bersama membuat
yel-yel yang sangat bagus. Saat itu yang terpikir adalah lagu sepak bola yang
kusukai. Garuda di Dadaku. Kemudian lagu ini kami ganti liriknya menjadi
yel-yel penyemangat regu kami. Jadilah yel-yel yang akhirnya bisa membawa regu
kami menjadi juara 1.
Dalam
pramuka sangat mengajarkan tolong menolong. Di sinilah kutemukan teman yang
benar-benar peduli padaku. Saat itu waktu aku
akan mengikuti lomba “Pecah Gendok”. Karena semangat yang penuh aku lari
menuju tempat ditentukannya lomba. Dengan cepat kuayunkan kaki. Namun tak
kulihat ada genangan air. Tak dapat
dihindari, aku terpeleset dan hampir jatuh. Untunglah Fai datang dan
membantuku.
Inilah
baru aku mengetahui betapa baiknya Fai. Pernah suatu ketika aku menangis karena
ada yang mengejek. Fai datang untuk menghiburku. Saat aku terjatuh, Fai juga
yang membantuku ke ruang guru untuk mengobati luka di kakiku. Saat aku tak
membawa uang saku, Fai juga yang berbagi bekal denganku.
Fai
memang baik, namun demikian Fakhri dan Rosyid juga baik terhadapku. Mereka
anak-anak yang pintar sering bantuku jika aku kesulitan dalam memahami materi
pelajaran. Senangnya bisa bertemu teman baik. Semoga Alloh selalu menjadikan
kami rukun, teman saat ini dan sahabat selamanya.
Karena
tanpa sahabat hidup jadi sepi tidak seru. Tapi bersama sahabat hidup jadi
menyenangkan, menghilangkan kesedihan. Bersyukurlah jika punya teman, sayangi
mereka dan temani mereka saat sulit ataupun tertimpa musibah.
Sahabat
selamanya,
Malang,
01 April 2020

Komentar
Posting Komentar