Si Hijau Pembawa Senyum

Si Hijau Pembawa Senyum

by: denok muktiari

Dilihatnya lagi handphone yang digenggam ayah. Siapa tahu ada whatsapp yang masuk. Berkali-kali, berulang-ulang, ayah gelisah. Dodi melihat ayahnya yang tak tenang karena menunggu ada kabar dari seseorang.
“Belum ditelpon Yah?” Tanya Dodi.
“Belum, mungkin sebentar lagi, tadi sih janjinya jam empat, bertemu di sini,” jawab ayah Dodi sembari melihat sekeliling.
Karena capek berdiri dan menunggu, ayah mengajak Dodi duduk di pojok taman. Karena di sana ada pohon rindang dan teduh. Biar tak kepanasan.
“Assalamu’alaikum Pak Wahyu,” sapa seseorang.
“Waalaikum salam, Pak. Gimana-gimana dibawa? Wah saya sudah menunggu dari tadi. Ini sama Dodi anak saya,” jawab ayah sambil memperkenalkan Dodi. Ternyata orang ini yang ditunggu ayah.
“Oh tentu saya bawa. Maaf terlambat, tadi jalanan agak macet, biasa jam pulang kerja, “ jelasnya Bapak itu.
Ternyata orang yang ditunggu-tunggu ayah Dodi adalah penjual burung Lovebird. Ayah Dodi memang bukan pecinta burung, tapi karena akhir-akhir ini banyak orang yang membicarakan si burung cantik ini, akhirnya ayah kepincut juga ingin beli. Dibawanya burung ini pulang dan disediakan pula sangkar besi berwarna hitam. Cantik memang.
***
Beberapa hari ini perhatian ayah sering tertuju sama burung. Bangun tidur ke burung, sebelum berangkat kerja ke burung, pulang kerja lihat burung dulu, sampai mau tidur malam lihat burung lagi. Apa istimewanya sih burung ini? Dodi jadi kurang diperhatikan semenjak kehadiran si hijau.
Dodi penasaran apa yang diberikan ayahnya tiap pagi untuk si hijau ini ya. Pagi ini Dodi memperhatikan ayahnya memberi sesuatu pada si hijau. Tetesan obat mujarab yang dikemas dalam botol plastik kecil. Obat apa ya itu? Saat ayah Dodi berangkat kerja, Dodi cepat-cepat lihat tulisan yang tertera dalam bungkus botol. “Obat penyaring suara burung”.
“Apaan ini? Memang si hijau bisa bersuara?” Tanya Dodi dalam hati.
Diletakkan kembali botol kecil itu dalam wadahnya. Dodi masih penasaran, apa benar burung Lovebird bisa mengeluarkan suara? Karena selama ini burung peliharaan ayahnya seperti tanpa suara. Atau jangan-jangan pita suaranya rusak, jadi ayah memberinya tetesan obat itu.
Tapi Dodi agak sebel sama ayahnya karena perhatiannya mulai berkurang karena si hijau. Dodi benci si hijau.
***
Sore ini sepulang kerja, ayah Dodi terlihat sangat lelah. Ibu membantu ayah membawa tas kerja ayah. Wajah ayah kelihatan sangat lesu. Dibuatkannya teh hangat kesukaan ayah. Dan disiapkan handuk kecil untuk persiapan mandi. Setelah ayah selesai mandi, kami salat magrib berjamaah di rumah.
Dodi melihat lagi ayahnya, wajahnya yang lemas letih lesu masih terlihat. Mungkin hari ini ayah kerjaannya banyak. Ayah menuju kursi tengah dan tertidur.
Selesai belajar, Dodi melihat ayahnya lagi. Masih tidur. Dilihat ibunya sibuk menutup jendela dan pintu depan rumah. Biasanya ayah yang selalu menutup dan mengunci pagar. Tapi karena ayah terlihat sangat lelah ibu yang menggantikan tugas ayah.
Malampun tiba. Kami istirahat di kamar masing-masing. Terdengar suara jangkrik di antara sepinya malam yang pekat. Detak jarum jam yang beradu semakin larut dalam hening. Tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk. Semua terlelap dalam gelap. Hanyut dalam mimpi-mimpi seru yang tak saling bertemu.
Saat-saat yang sunyi tiba-tiba terdengar suara bruak bruak bruak dan sekilas suara hentakan kaki, lari kencang seperti kuda. Ayah dan ibu segera bergegas bangun menuju suara itu. Seperti di teras rumah. Ah ada apa ini? Jangan-jangan ada apa ini?
Sepeda motor ayah hampir dicuri. Sepeda motor yang posisi awalnya berdiri tegak, kini terlihat tergeletak di dekat pagar rumah. Pagar rumahpun terbuka lebar. Wah ada pencuri ini. Tapi kenapa si pencuri lari dan meninggalkan sepeda motor ayah.
Setelah semua dibereskan. Pintu pagar kembali ditutup dan dikunci rapat. Ayah segera menuju ruang pantau. Karena enam bulan lalu ayah Dodi memasang kamera CCTV. Dan setelah dilihat terdengar suara tawa ayah dan ibu dari balik pintu. Dodi penasaran. Ada apa? Bukannya was-was habis ada maling kok malah tertawa. Dodipun segera menuju ruang pantau.
Ternyata kejadiannya memang pagar depan belum dikunci sama ibu. Yang bikin lucu, saat si maling masuk teras, burung si hijau berkicauan dengan kerasnya. Bahkan waktu maling mulai menuntun sepeda motor ke arah keluar si hijau makin kenceng suaranya. Ini yang bikin maling takut. Akhirnya sepeda motor ditinggal ambruk, dan dia lari kencang.
Penasarannya, kok si hijau bisa bersuara? Padahal selama ini nyaris tak ada suara. Setelah mendengar cerita dari ayah baru paham. Si hijau itu dulunya selalu menang lomba kicau burung. Pialanya saja banyak, tapi karena kena penyakit di mulutnya, suaranya jadi hilang. Dan sang pemilik awal si hijau menyerahkan si hijau kepada ayah Dodi. Benar-benar bikin senyum.

 


Sayangilah semua ciptaan Allah
Niscaya dia akan mencintaimu pula

Komentar