Di sebuah hutan kristal yang sangat jauh, hiduplah kawanan semut, kupu-kupu, dan lebah. Mereka hidup damai di sana. Setiap dari kelompok mereka saling membantu, tolong menolong, dan bekerja sama satu sama lain.
"Putri semut, kami sungguh senang bisa hidup di hutan kristal ini. Hidup kami begitu damai. Setiap hari kami selalu tertawa. Keceriaan yang kami rasakan adalah bagian dari kepemimpinanmu Putri," kata salah satu rakyat semut, saat berada di kerajaan semut.
"Terima kasih, wahai rakyatku. Sungguh keadaan yang membuat kita harus mensyukuri segala nikmat dari Tuhan," jelas Putri semut.
"Beberapa hari lagi, kita akan kedatangan anggota baru, kuharap kehadirannya nanti mampu menggantikanku sebagai putri semut," ucap sang Putri seraya menghela napas panjang.
Sepertinya saat yang ditunggu hampir tiba. Ribuan telur semut yang tersimpan di ruang telur akan segera menetas. Dan harapan rakyat semut adalah satu di antara seribu itu nanti akan terpilih menjadi Putri Semut.
***
Hari ini awan begitu sangat gelap. Matahari belum juga nampak menunjukkan senyumnya. Angin mulai berhembus. Daun-daun di tiap-tiap ranting beterbangan menari mengikuti arus angin yang semakin kencang.
Beberapa kristal putih sepertinya mulai turun. Bukit kristal yang tinggi pun nampak terusik akibat angin yang kian menarik.
"Perintahkan semua prajurit untuk menggiring semua rakyat untuk masuk ke dalam rumah-rumah mereka. Waktu kita sangat sempit, pasti sebentar lagi hujan lebat akan turun. Tutup pintu rapat-rapat. Sampai kondisi benar-benar aman." Perintah sang Putri pada panglima semut kepercayaannya.
"Siap Putri, segera kami laksanakan,"
Semua keadaan begitu sangat mencekam. Hujan turun begitu sangat deras. Butiran air yang menghujam rumah-rumah semut dengan sangat keras. Angin berlari dengan sangat kencang, seolah-seolah membawa sabuk yang menikam siapa saja yang menghalangi. Disusul suara petir yang saling bersahutan. Bak orang yang marah saling lempar teriakan.
Sungguh, hujan kali ini begitu deras. Beberapa rumah nampak hanyut terbawa derasnya arus air yang menerjang dengan kencangnya. Kawanan semut kocar kacir tak nampak bergerombol. Rumah mereka rusak, rumah mereka hanyut, dan saudara mereka pun hilang tersapu.
Kristal putih nampak lengket, berubah jadi lumpur yang sangat keruh. Daerah yang mereka tinggali sudah tiada harapan. Lalu bagaimana dengan nasib telur-telur yang menjadi harapan mereka?
Sang Putri semut terus berusaha berlari, tapi kakinya seakan rapuh melihat kondisi rakyatnya tak terselamatkan. Ditariknya kaki dengan bergantian, akibat terjebak lumpur yang sangat lengket.
"Anak-anakku bagaimana?" air mata terus mengalir dengan deras.
Mulutnya terus teriak-teriak memanggil kawanan yang tersisa untuk mencari telur-telur yang dapat terselamatkan.
"Putri ... putri ... putri, kami menemukan beberapa telur yang masih utuh," teriak seorang prajurit semut.
"Benarkah? Berapa yang kau temukan?"
"Maafkan kami Putri. Kurang lebih hanya lima butir telur yang masih sehat," jawab prajurit dengan menunduk sedih.
Tubuhnya begitu lunglai tak berdaya. Kakinya yang kuat menopang tubuh, tiba-tiba lemas. Putri terjatuh di atas lumpur yang masih basah. Ditatapnya langit yang biru dengan harapan yang kosong. Dunia seakan berputar, kencang, dan hilang. Putri pingsan.
***
Hari yang ditunggu tiba, lima telur yang tersisa menetas dengan sempurna. Tapi tugas Putri dan prajurit yang masih selamat tidaklah mudah. Lima semut kecil ini harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Karena satu di antara mereka yang akan melanjutkan tugas mengemban sebagai Putri sekaligus ibu semut.
Hari demi hari lima semut menujukkan kekuatan fisiknya. Ternyata badai hujan membuat pertumbuhan mereka mengalami gangguan. Dua di antaranya sudah mati. Kini tinggal tiga tersisa.
Sedih. Semua prajurit harapan berusaha keras memberikan nutrisi yang terbaik untuk tiga semut kecil. Tapi nampaknya masih belum juga menampakkan hasilnya.
***
"Dua hari lagi kita akan kedatangan tamu. Kawanku lebah ingin berkunjung. Ku harap kalian mampu menjamu sahabatku itu. Mereka sangat baik padaku, dulu mereka pernah menolongku ketika aku hampir terjatuh ke jurang Kristal Gliko," perintah Putri.
Memang setelah kejadian badai hujan itu, peringai Putri berubah. Dia lebih banyak ddiam membisu ketimbang tersenyum bersama rakyatnya. Dia menjadi mudah marah, cepat putus asa, dan enggan mendengarkan keluh kesah rakyatnya.
"Apakah kita bisa menjamu keluarga lebah? Sementara kita begitu kelelahan menjaga tiga semut kecil," kata semut kepada semut yang lain.
"Entah, kenapa Putri yang dulu lembut sekarang menjadi suka marah," gerutu semut.
"Bagaimana kita bisa mengatur waktu? Sementara semut kecil butuh perlindungan yang sangat ketat?"
"Kita tinggal saja sebentar, semut kecil masih tidur. Segera kita mencari madu di pucuk bunga sebelah pohon besar itu, sepertinya di sana banyak sekali bunga pasti kita cepat mendapatkan madu,"
"Baiklah," sahut semut.
Asyik mereka mencari madu, ternyata ada pengintai yang beberapa hari mengamati sarang semut. Anteater.
Perutnya keroncongan akibat telah berhari-hari tidak menemukan santapan kesukaannya. Semut. Matanya tajam menyorot pada tujuan sasaran. Lidahnya terus menjulur tanda ia telah mencium aroma keringat semut yang dinanti. Perlahan tapi pasti. Selangkah demi selangkah tapak kakinya menuju sarang santapan. Oh betapa perut ini sudah menanti untuk diisi. Sungguh tak sabar merasakan reyahnya semut kecil dan empuk.
Tak ada penjagaan. Semua prajurit sibuk mencari hidangan untuk tamu kehormatan. Asyik mencari di antara mekarnya bunga yang berwarna-warni. Terpesona dan lupa.
Semut kecil nan mungil tengah lelap tidur di kasurnya yang nyaman dan hangat.
Anteater telah mendekat, lidahnya mengoyak ngoyak lubang semut yang nampak berliku. Belum juga ia temukan. Padahal aroma semut yang lezat telah menusuk hidungnya.
Setelah sekian lama diobrak abrik permukaan tanah itu, akhirnya ia dapatkan juga, semut mungil yang tanpa daya, bahkan membuka mata pun ia tak bisa. Mata sang Anteater semakin berbinar saat lidahnya digoyangkan dengan semut kecil yang menggeliat.
Tapi apa daya, sambaran secepat kilat datang dari arah samping anteater. Dilihatnya lagi semut kecil di lidahnya sudah tidak ada. Ternyata bayi semut telah diambil kawanan lebah yang datang tanpa permisi.
Anteater marah. Pertarungan pun tak dapat di elakkan. Anteater melawan kawanan lebah. Berbagai jurus lidah disambarkan ke kawanan lebah. Satu dua tiga lebah mulai terjatuh. Bangkit lagi. Datang lebah serang lagi. Lebah pembawa semut kecil terbang dengan sekuat tenaga dengan cepat. Anteater pun tak mau kalah, ia pun berlari sambil menjulurkan lidahnya yang panjang dan tajam.
Setelah sekian lama bertarung, dan berlari kencang, ada sebuah kayu melintang. Dan itu luput dari pandangan anteater. Kakinya tersandung kayu, tubuhnya terpental dan jatuh ke jurang. Akhirnya semut kecil terselamatkan.
Dipeluknya erat-erat tubuh mungil semut kecil. Diusaplah kepalanya.
"Ambilkan madu, di kantung yang kita. Ia begitu lemah," seorang lebah memerintahkan untuk segera memberi semut ini dengan tetesan madu yang dibawa.
"Oh, sahabatku lebah. Bagaimana engkau begitu datang dengan cepat di waktu yang tepat. Maafkan aku selalu merepotkanmu," ucap Putri semut tertunduk malu
"Sudahlah, bukankah kita bersahabat. Sudah sepatutnya jika sahabatku sedang kesulitan aku segera datang. Karena ku dengar kondisimu begitu meyedihkan, maka aku datang lebih awal. Terimalah madu terbaik untuk calon putri penerusmu," ucap lebih dengan bijaksana.
"Terima kasih, aku berjanji akan merawat semut kecilku dengan baik," jawab Putri Semut.
"Bagaimana kalau tiga semut mungilmu ini ku beri nama Putri Harapan," ucap lebah lagi.
"Bagus, itu adalah nama yang mengandung doa, harapan untuk terus hidup, demi keberlangsungan kawanan semut," Putri semut tertenyum bahagia.
Akhirnya ketiga semut kecil itu tumbuh dengan sangat sehat. Satu diantaranya telah siap untuk menjadi Putri penerus kawanan semut. Putri Harapan.
TAMAT
sumber gambar:
https://pin.it/3fGoH5X
https://pin.it/dApTBt


Komentar
Posting Komentar