Ibu Sur Penjual Kelapa

Oleh: Bunda Denok

"Kelapa muda ... kelapa muda... kelapa muda," teriak ibu Sur, keliling komplek menjajakan dagangannya.

"Kelapa Bu ... mari-mari ... kelapa muda segar untuk berbuka puasa."

Rupanya dagangan ibu Sur masih banyak. Terlihat di sepada motornya masih penuh buah kelapa. Kanan, kiri, depan, belakang dipenuhinya dengan dagangan sehari-harinya.

Wajahnya nampak lelah. Beberapa komplek perumahan yang dilaluinya masih belum terdengar orang memanggil untuk membeli.

"Ma, itu ada bu Sur jual kelapa muda. Mama nggak kepingin beli?" tanya Dani.

"Kenapa? Memang kamu mau?"

Dani, menganggukkan kepala tanda ingin dibelikan kelapa muda. Mama Dani segera keluar dan memanggil ibu Sur si penjual kelapa.

"Kelapa, Bu Sur," panggil mama.

Bu Sur menuju arah panggilan mama. Alhamdulillah akhirnya ada yang beli.

"Kelapa muda, Bu Sur. Dua buah ya, sekalian minta tolong dibelahkan. Maklum di rumah nggak punya alat buat belahnya," pinta mama.

"Siap Bu. Akan saya belahkan sekalian," jawab bu Sur.

Sambil menunggu kelapa dari bu Sur, mama Dani menanyakan sesuatu ke bu Sur.

"Hari ini laku banyak bu Sur?"

"Hemm, masih belum Bu. Ibu yang beli pertama, mudah-mudahan jadi penglaris," jawab bu Sur sambil tersenyum.

"Ya Alloh, begitu ya? Biasanya sehari laku berapa?" tanya mama Dani lagi.

"Ya nggak pasti Bu, kadang sepuluh biji, kadang lima belas. Pernah juga laku dua biji sehari. Disyukuri saja bu," jawabnya sambil mengusap peluh di keningnya.

Bu Sur memang tak kenal lelah. Mencari nafkah sendirian demi anak-anaknya. Semenjak suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Kini kerjanya meneruskan perjuangan suami berjualan kelapa muda. Keadaan ini semakin susah di tengah pandemi. Para pembeli semakin sedikit, sementara anak-anaknya membutuhkan banyak biaya hidup. Tak banyak hanya untuk makan dan minum. 

Tak sengaja, Dani mendengarkan percakapan mamanya dengan bu Sur. Dalam hati ia merasa sangat iba dengan kondisi bu Sur. Dani berpikir, apa yang bisa ia lakukan untuk membantu kondisi bu Sur. Entah apa yang dipikirkan anak itu. Terlihat ia berlari menuju kamarnya.

***

Keesokan harinya. Seperti biasanya bu Sur menjual dagangannya sambil teriak-teriak di komplek tempat tinggal Dani. Dani mendengar suara bu Sur dari dalam rumah. Seperti sedang menunggu, dan yang ditunggu pun datang. 

"Bu Suur, ke sini," teriak Dani pada bu Sur yang dilihatnya agak jauh.

"Lho, Dani mau kelapa muda lagi?" tanya mama penasaran.

"Enggak, Ma. Dani punya sesuatu buat bu Sur. Dani kasihan sama bu Sur. Apalagi anak bu Sur yang pertama kan teman sekolahnya Dani. Jadi Dani kasihan," jawab Dani.

Ternyata Dani memecah celengan tabungannya selama ini. Tidak banyak sih, tetapi sikap terpuji Dani mengetuk hati mama untuk ikut berbagi juga. 

Dani menyerahkan uangnya ke mama, dan mama terlihat mengambil sesuatu di dapur untuk diberikan ke bu Sur.



"Bu Sur, ini dari Dani. Diterima ya, mudah-mudahan bisa membantu," ucap mama ke bu Sur.

"Alhamdulillah ya Bu. Sampaikan ke Dani, saya berterima kasih," jawab bu Sur sembari meneteskan air mata.

Tidak sampai di sini saja. Dani juga menelepon teman-temannya yang ingin berbagi ke bu Sur. Jadi setiap bu Sur lewat, tidak hanya dagangannya yang laku. Bu Sur juga dapat bantuan dari orang-orang.



Indahnya berbagi dapat meringankan beban orang lain serta mempererat tali persaudaraan. Selamat berbagi.


Malang, 22 Mei 2010

Sumber gambar:

 https://pin.it/1vkKaeG

 https://pin.it/79aeVh5




Komentar